Selasa, 27 Januari 2015

Mendung yang Enggan Usai



Tangisan pun tak akan menghentikan keadaan
Haru biru terisak tak akan mengembalikan semuanya seperti semula
Hal yang takkan pernah terulang kedua kalinya
Takdir telah berjalan sebagaimana mestinya
Meninggalkan luka kelam
Menghadirkan rasa kecewa yang mendalam
Ku lihat embun terperangkap dikedua bola matamu
Pedih teramat dalam yang kau rasakan
Hanya tersisa sesalan, dan air mata
Sepertinya mendung belum mau usai hinggap di rumah kita
Kini perlahan-lahan menjadi tetesan hujan
Hanya ada kelapang dadaan yang ada di hatimu
Merelakan ini semua terjadi tanpa harus melawan
Kehilangan sosok yang selalu kau sayangi
Meninggalkan luka perih yang tertancap keras di hati
Hal yang kau takutkan itu pun terjadi
Kini hanya tinggal penyesalan
Aku turut bersedih bu...
Aku yakin akan ada pelangi setelah hujan ini
Kita sedang di uji Tuhan...
Teruslah bersabar, dan jangan sampai menyerah
Kita harus terus berjalan di dunia yang fana ini
Ini adalah episode-episode Tuhan yang harus kita jalani
Masih ada aku yang terus berjuang demi dirimu
Kita hadapi kerasnya kerikil-kerikil tajam ini dengan senyuman
Akan ku buat dirimu menangis haru atas semua usahaku nanti
Jangan pernah menangisi semua ini berlarut-larut
Yang tlah terjadi biarlah terjadi bu
Aku sayang dirimu lebih dari apapun
Kau malaikat tak bersayap yang selalu mengusahakan kebahagiaan untuk kami
Teruslah menjadi malaikat kami bu
Aku mencintaimu...
Salam untuk ayah di rumah...
Tunggu aku pulang...

Harga yang Harus Dibayar

Sebuah karya dari Sahratul Syita, siswa kelas 8B SMPN 1 Sungaiselan   “Pagi, Pak Alaric.” ucap Budi “Pagi juga, masih membuat jalur limbah y...