Sabtu, 19 Oktober 2013

Bersimpuh, Merengkuh, Berharap


Tuhan, bolehkah aku berharap sedikit saja dari semua yang aku alami sekarang ? bisakah Tuhan ? aku tak berharap banyak, hanya sepenggal kata yang akan aku ucapkan jika engkau memperbolehkan aku untuk berharap...

Sepenggal kata sangat berarti untukku Tuhan..
“bisakah Engkau membantuku untuk mengalahkan hati ini yang takkan bisa menerima semua kenyataan yang telah terbukti adanya?”
Itu saja Tuhan...
Jika memang Engkau takkan bisa membantuku, aku akan merengkuh, mengemis dihadapanmu, mencium kakimu, memohon itu semua agar Engkau bisa membantuku Tuhan...

Tapi apa daya, aku masih tetap saja tidak bisa mengalahkan hati ini yang berharap banyak darinya...
Aku sadar atas kemunafikan diriku selama ini, mulutku berkata demikian tetapi hatiku berkata lain. Memilih diam dan takkan pernah menuruti kata hati membuatku sakit, memendam perasaan ini berlarut-larut hanya senyap dimakan waktu.
Tuhan, apakah aku salah berharap terlalu banyak ? kalau begitu aku akan berharap hanya sedikit agar Engkau mampu mengabulkan semua harapan itu. Aku sangat percaya bahwa Engkau selalu bersamaku, bersama bayanganku yang selalu setia berada dimanapun aku berada...

Aku hanya mampu berdiri bersama bayangan ini merangkul bersama menapaki setiap alunan alunan nyanyian merdu melambangkan hidup ini. Tetapi semua ini membuatku lelah, aku takkan bisa memaki maki bayangan ini, melampiaskan semua ini kepada bayanganku yang sangat sangat setia berada di sampingku, aku menangis namun dia hanya diam melihat aku bersedih tanpa ada jawaban darinya.
Tuhan, mengapa engkau ciptakan bayangan diri kepada setiap insan manusia di mukabumi ini ? walaupun ia setia mengikuti kemana pun kita melangkah namun mengapa kau tak ciptakan bayangan ini seperti aku ? akankah kau menciptakan bayangan ini dengan hanya diam disaat aku memaki maki dirinya, menangis didepannya, merengkuhnya, membawanya ikut dalam kesedihanku...

Apakah hanya setia yang akan dibutuhkan didalam hidup ini ? Cuma itu ? omong kosong !
Tuhan, sedikit yang akan aku harapkan. jadikanlah bayangan itu seperti seorang sahabat yang menemaniku dalam suka dan duka...

Disaat aku menangis disampingnya, ia akan setia memberikan pundaknya...

Disaat aku memaki maki nya, ia akan setia mendengarkan apa yang aku rasakan...

Disaat aku bahagia, ia akan setia hadir dalam kebahagiaan yang aku rasakan...

Oh bayangan...

Kau teman setia dan selalu hadir dimanapun aku melangkah...

Berdiam dalam Sesaknya Derita Hidup



Sekian lama tidak menerbitkan sebuah tulisan, tapi menurut saya lebih tepatnya sebuah ide yang saya tumpahkan ke dalam tulisan ini. 
 
Ngomong-ngomong masalah hidup, ya setiap manusia itu mempunyai masalah. Bukan manusia namanya jika tidak mempunyai masalah, dengan masalah yang kita hadapi kita akan memetik sebuah pelajaran yang mungkin itu lebih tepatnya menjadikan semua itu sebagai pengalaman. Tentunya setiap insan manusia pasti mempunyai masalah, tetapi semua kembali ke individunya masing masing bagaimana cara menghadapi masalah tersebut. Menurut pendapat saya, hidup bisa menjadi lebih berwarna jika kita mampu mengatasi masalah tersebut dengan baik. Ayo guys kita semakin dewasa, patutnya kita jangan hanya berdiam diri di dalam pahitnya kehidupan. Ayo bangkit, berdiri, berkerja keras lah dalam mencapai suatu tujuan, jangan hanya menunggu kepastian yang mungkin tak akan terbukti kapan akan terjadi.

Berdiam dalam sesaknya derita hidup, itu bukanlah suatu keputusan yang akan di ambil dalam menghadapi suatu masalah yang amat sangat rumit. Sabar saja tidak cukup guys, ayo semangat. Bangkitlah dari keterpurukanmu, jangan sampai dirimu kalah dengan sebuah kehidupan yang memang tak pernah kau inginkan terlahir untukmu. Kehidupan yang memang kau harapkan itu terjadi kepada orang lain. Tuhan mengajarkan kita untuk bersyukur dengan apa yang Ia berikan untuk kita. Yakinlah ada kehidupan yang lebih baik dari derita hidup yang selama ini kau alami. Coba renungkan, engkau diciptakan sempurna dan setara dengan manusia lainnya. Bersyukurlah engkau tidak diciptakan Allah dengan kekurangan, seperti manusia yang di lahirkan tidak memiliki indra penglihatan. Namun, bagi mereka yang merasakan itu semua memang kehendak yang Maha Kuasa. Coba lihat, mereka masih bisa merasakan kebahagian di setiap hidup mereka walau mereka tidak bisa melihat kebahagian itu tetapi bisa merasakan bagaimana rasanya mendapat  kebahagian.  

Dan coba lihat dirimu, apakah kamu sudah bersyukur dengan apa yang telah Allah berikan untuk mu ? sepasang bola mata indah yang bisa menambah kesempurnaanmu di pandangan manusia. Tetap saja kamu mengeluh, menangis dalam menghadapi pahitnya hidup.  Lupakan masa lalu, bangkitlah dengan masa yang baru. Anggap saja semua itu tidak pernah terjadi di dalam hidupmu. Anggap saja semua itu takkan pernah menjadi kenyataan dan kau bisa membuang jauh semua perasaan yang kau alami. Memang itu sakit, tapi apakah kamu harus berdiam diri saja meratapi semua yang engkau harapkan takkan pernah bisa terjadi ?

Mari mengukir masa depan yang lebih cerah, secerah sinar mentari di pagi hari yang penuh dengan kesejukkan. Menggoreskan catatan kehidupan di halaman baru dengan belajar dari pengalaman yang pernah engkau alami sebelumnya. Merajut manis dan pahit nya hidup yang pernah hadir di dalam kehidupan ini. Bangkitlah ! berdiam saja ditengah kepahitan yang engkau alami itu sama saja dengan engkau perlahan-lahan membunuh dirimu sendiri. Membiarkan semua itu terjadi tanpa ada perlawanan dari dirimu. Bangkit bangkit bangkit, lawan semua yang akan perlahan membunuh kebahagianmu secara tidak langsung. Semangat !

Percakapan Singkat

            Genting panas seakan akan menusuk kulit nan putih ini, menikmati keindahan kampus biru di tengah universitas utama di Indralaya. Aku  juga kurang mengetahui apakah Indralaya itu disebut kota ataukah desa. Entah mengapa tanpa disadari aku sangat bersemangat di hari itu hanya untuk datang ke suatu acara yang memang dari prodi ku yang menyelenggarakan. Biasanya aku sedikit bermalas malasan jika ada kegiatan diluar materi pelajaran. Itupun harus di bujuk dengan paksa agar aku datang. Namun hari itu sangatlah berbeda. Disisi lain aku memang telah berniat untuk tidak datang kesana jika bukan untuk urusan yang lebih penting, Seperti menyerahkan berkas UKT (Uang Kuliah Tunggal). Suatu kejadian yang memang membuatku sedikit menghindarkan diri dari penglihatan seseorang. Aku berusaha untuk merelakan semua yang telah terjadi kepadaku, walaupun itu kelihatannya sulit untuk dimengerti.
            Pertemuan setelah kejadian itu membuatku selalu berusaha untuk menghindar dan pura-pura tidak tahu. Hari itu sangatlah berbeda dari hari yang sebelumnya ketika aku bertemu dengannya. Menghadirkan suatu yang sangat asing, aku seperti orang yang baru saja lepas dari sakit jiwa. tidak tahu akan berbuat apa, seperti orang bodoh yang tidak tahu kemana akan melangkah. Melihat dia memulai pertemuan pertama yang aneh bagiku, seakan akan mau menunjukkan “ini loh gebetan yang selama ini aku nantikan”. Aku bukannya merasa sedih ya, hanya saja sedikit merasa bersalah. Mengapa aku bisa hadir di tengah-tengah kebahagiaan mereka. Mengapa aku bisa memiliki perasaan yang semestinya tak pantas aku membuat perasaan itu menjadi sebuah kegalauan.
            Ketika senja berganti menjadi awan kelabu, menunjukkan bahwa waktu pulang dan mengantri bus angkutan khusus mahasiswa. Disaat aku tidak berharap semua nya akan terjadi, ternyata semua berbalik arah. Pertemuan itu benar benar terjadi bahkan secara langsung tanpa ada batas yang memisahkan. Percakapan yang berawal dari mengucapkan “Selamat Ulang Tahun” untukku dan sedikit ada kesan menawarkan akan pulang bersama satu bus. Akan tetapi ada satu hal yang harus aku ingat dan aku sadari, wanita yang bersama nya bukanlah teman biasa, bahkan bisa disebut gebetan atau calon pacar. Dilema melanda diriku, merasuk ke dalam kalbu. Antara pulang bersama atau tidak, antara satu bus atau tidak. Ah bingung, semua menjadi serba salah. Akhirnya ku putuskan untuk pergi dan berjalan sejauh 5 meter mungkin dari langkah kakinya dan ya terutama perempuan itu.
            Disaat sedang asyik mengobrol dengan teman sepermainan ku, aku lihat dengan matakepala ku sendiri mereka bertengkar kecil dan menyebabkan perempuan yang bersama nya tadi pergi. Hal yang membuat aku sesali, ternyata ia dengan sekuat tenaga nya mengejar perempuan itu. setelah nalar ku berbicara, mungkin ini yang disebut perjuangan seorang laki-laki terhadap perempuan yang dicintai nya. Aku hanya bisa terdiam membisu setelah melihat kejadian itu, menggerutu didalam hati “andai aku yang kau kejar dan kau bujuk untuk tetap pergi bersamamu”  ah daya khayal ku melambung tinggi menembus awan ke tujuh rasanya. Setelah aku relakan dan aku putuskan untuk berbeda bus karena itu pikirku lebih baik untuk menghindar darinya.
            Nasib tak pernah bisa di tolak atau dihindari, mungkin semua skenario Tuhan yang diberikannya untukku. Aku satu bus dengan nya selama kurang lebih 1 jam. Duduk di depan bangku nya, mendengarkan celotehannya alias bisa dikatakan nguping pembicaraan orang yang memang mungkin tidak pantas orang lain untuk tahu. Ya itulah nasib, rumah satu arah dan mungkin kurang lebih bisa dikatakan berdekatan. Pulang kerumah dengan naik TM atau Trans Musi itu adalah hal yang biasa. Tapi, hari itu sangatlah berbeda bukan karena busway nya yang baru atau apapun tetapi seseorang yang dulu pernah aku kagumi pulang bersamaku. Suatu hal yang mungkin takkan pernah aku sadari akan terjadi kepadaku. Perasaan yang dulu pernah ku buang serasa kembali lagi seperti dulu. Namun aku hanya banyak-banyak berdiam diri, aku akan berbicara jika dia yang memulai pembicaraan. Sungguh hal yang memang tak ingin aku lakukan terhadapnya, tetapi aku masih trauma dengan semua yang telah terjadi kepadaku. Semua yang membuat hati ini yang sedari dulu berkobar untuknya kini perlahan redup dan kemungkinan akan cepat mati.
            Tahap demi tahap aku lalui dengan hanya berdiam diri dan sedikit mengobrol dengan temanku. Semua itu aku lakukan demi menghindar dari nya, dan belajar melupakan semua harapan-harapan yang aku bangun dari dulu. Sampai pada akhirnya aku duduk temenung bersampingan dengannya, membuat isi hati ini ingin meledak mengeluarkan semua unek-unek yang sedari dulu aku usahakan untuk keluar namun tak mau jua untuk keluar. Percakapan singkat yang kurasa itu suatu pertanda engkau masih menyimpan harapan-harapan itu. membuatku yakin bahwa harapan-harapan itu akan terwujud dengan sendiri nya tanpa disadari dan tanpa dikehendaki. Tapi entahlah...

Harga yang Harus Dibayar

Sebuah karya dari Sahratul Syita, siswa kelas 8B SMPN 1 Sungaiselan   “Pagi, Pak Alaric.” ucap Budi “Pagi juga, masih membuat jalur limbah y...