Kamis, 30 April 2026

Harga yang Harus Dibayar

Sebuah karya dari Sahratul Syita, siswa kelas 8B SMPN 1 Sungaiselan

 “Pagi, Pak Alaric.” ucap Budi

“Pagi juga, masih membuat jalur limbah ya?” tanya Alaric.
”Masih, Pak. Kalo gitu saya lanjut lagi ya.” jawab Budi dan pergi untuk melanjutkan pekerjaannya.

Alaric adalah seorang bos besar yang mempunyai tambang timah dan danau di Kampung Jelinger. Banyak orang yang datang untuk berwisata ke danau tersebut atau bekerja di tambang, karena tambang dan danau milik Alaric saling berdekatan. Dan di tambang tersebut terdapat limbah yang biasanya orang mendulang di sana. Ibu-ibu juga datang untuk mendulang untuk mencari pundi-pundi timah yang bisa dibawa pulang, terkadang juga memberikan makanan  untuk para pekerja tambang. Sebagai gantinya, para pekerja akan memberikan mereka timah walaupun tidak banyak.

“Ini, Bud.” Mira memberikan sebungkus makanan berisi jajanan pasar

“Terima kasih, segini cukuplah ya” Budi memberikan sepiring timah kepada Mira

Alaric merasa bahwa ia telah membantu orang kampung untuk mendapatkan pekerjaan dengan tambang timah dan limbah yang dia miliki, walaupun itu beresiko bagi yang bekerja. Salah satunya Doni, beliau sudah mendulang cukup lama di sana sampai-sampai tubuhnya gosong oleh teriknya sinar matahari. Tono adalah pengawas tambang dan limbah, sekaligus teman dekatnya Alaric.

 

Sementara itu di sekolah….

 

“Velia, kamu sudah selesai belum tugas dari Ibu Ratika?” tanya Renza ketua kelas

“Sudah, ini bukunya. Kamu disuruh Ibu ya?” tanya Velia, Renza hanya mengganguk dan pergi meninggalkan Velia untuk mengambil buku tugas teman-teman yang lain.

Beberapa menit berlalu kemudian bel istirahat berbunyi. Velia mengajak Elly untuk pergi ke kantin, ada Renza dan Noir sudah menunggu mereka berdua. Velia dan Elly pun menghampiri mereka dan duduk di hadapan. Renza memulai pembicaraan sambil memakan bekalnya.

“Kalian denger berita gak, terkait dengan pekerja meninggal akibat longsor.” tanya Renza

“Iya, Katanya sih ada 6 orang yang meninggal” jawab Noir

“Kasihan mereka” ucap Elly

Mereka ngobrol sambil makan bekal masing-masing, tanpa sadar bel masuk sudah berbunyi beberapa menit lalu. Selesai percakapan, mereka membereskan kotak makan masing-masing. Jam pelajaran selanjutnya adalah IPS yang diajarkan oleh Pak Fahri, Ini pelajaran terakhir. Sesampainya mereka di kelas ternyata Pak Fahri sudah berada di kelas.

“Masuk kalian berempat, silakan.” sambut hangat dari Pak Fahri walaupun mereka telat.

Mereka pun masuk ke kelas, dan duduk di tempat masing-masing.

“Baik, semua sudah masuk kelas. Bapak akan beri kalian tugas, tapi kalian tentukan dulu kelompok maksimal 4 orang ya. Tugasnya adalah mencari informasi terkait tentang tambang timah, berhubungan dengan tambang. Kalian wawancarai satu pekerja. Dikumpulkan besok pagi ya.” Penjelasan dari Pak Fahri terkait tugas yang diberikan. “Kalo sudah mengerti apa yang Bapak sampaikan, silakan bersiap untuk pulang karena hari ini guru-guru ada rapat.” Lanjutnya dan beliau meninggalkan kelas. Bel pulang sudah dibunyikan siswa-siswi di sana bergegas untuk pulang ke rumah mereka masing-masing. Velia akhirnya sampai di rumahnya dan langsung ke kamarnya tiba-tiba hp nya berbunyi, panggilan grup tak terjawab.

Velia mencoba menghubungi lagi, panggilan tersambung.

“Velia, kami datang ke rumah kamu ya, buat kerja kelompok tadi.” ucap Renza ditelepon

“Oke, Nanti kalian datang aja ke rumah. Ibuku akan membuat cemilan untuk kita.” jawab Velia

“Oke, kalo gitu kami siap-siap dulu.” respon serentak mereka.

Beberapa Jam kemudian, pukul 14.00. Renza, Noir, dan Elly tiba di rumah Velia.

“VELIAA…” mereka berseru memanggil Velia

“Mari masuk, Nak.” Ibu Velia membukakan pintu untuk teman-teman anaknya

Velia, Renza, Elly dan Noir. Mereka berdiskusi untuk mengejarkan tugas yang diberi oleh Pak Fahri.

“Berarti kita harus ke tambang dong, kalo wawancarai pekerja” ucap Renza

“Benar juga sih, Vel. Kamu diizin gak untuk kita pergi ke tambang ayahmu?” tanya Noir.

“Hmm, bentar. Aku coba telepon ayahku dulu” Velia mengambil ponselnya dan telepon ayahnya, sambungan terhubung.

“Halo? Iya, Nak. Ada apa?”

“Velia boleh tidak, datang ke tambang ayah sama teman-teman untuk kerjain tugas?”

“Boleh, tapi hati-hati ya. Ada Pak Tono di sana, minta tolong dia nanti, Okey.”

"Oke, Ayah. Terima kasih ayah” Sambungan terputus.

Tanpa pikir panjang Velia mengajak teman-temannya untuk pergi ke tambang, Velia meminta tolong abangnya untuk mengantarkan Velia dan teman-temannya, menggunakan mobil milik ayahnya. Sesampainya mereka di sana, mata mereka terpukau melihat danau yang bersebelahan dengan tambang. Sangat indah sekali, dan ada papan nama yang tertulis “Danau Kicau”. Danau tersebut dulunya adalah limbah hasil galian tambang dengan skala besar, beberapa tahun yang lalu. Mereka berjalan menuju tambang milik ayah, tiba-tiba ada seseorang yang datang menghampiri mereka. Ternyata itu Pak Tono teman kerja ayah.

“Anak-anak, ada keperluan apa kalian datang kemari?” tanya Pak Tono

“Ini Pak kami ada tugas, terkait tentang tambang timah” Velia menjelaskan tugasnya kepada Pak Tono.

“Oh begitu, bapak bantu kalian. Ayo bapak ajak kalian berkeliling dulu.” ajak Pak Tono

Mereka pun mencacat hal-hal penting, dan mencatat penjelasan yang disampaikan oleh Pak Tono. Beberapa jam Kemudian akhirnya tugas mereka selesai, dan beristirahat sejak. Renza kepikiran sesuatu.

“Guys, gimana kalo kita pergi ke danau kicau yang tadi” tanya Renza

“Tapi kita harus izin dulu sama Pak Tono” jawab Elly.

“Velia, Boleh kita pergi ke sana buat foto-foto. Kamu izin sama Pak Tono dulu.” ucap Renza

“Iya, aku coba izin dulu.” Velia menghampiri Pak Tono.

“Pak Tono, apa kami boleh ke danau kicau buat foto-foto?” tanya Velia

“Boleh, tapi hati-hati di sana licin dan jurang. Tapi cepat ya, Ini mau malam” Pak tono mengizinkan mereka.

“Baik, Pak. Yuk teman-teman keburu malam nih” ajak Velia.

Mereka berlari menuju danau tersebut. Dan berfoto-foto setelah itu mereka akan meliihat matahari terbenam. Sesudah mereka melihat matahari terbenam, mereka mengajak teman-temannya untuk pulang ke tambang.

“Yuk Guys, kita pulang ke tambang. Nanti abangku Jemput kita dan mengantarkan kalian pulang” ucap Velia

“Bentar lagi, Vel. Kita menikmati hembusan angin dulu.” jawab Renza, teman-teman lain setuju dengan Renza.

“Kalian tidak takut hutan dibelakang kita” ucap Velia cemas.

“Santai saja, Velia. Bentar lagi kita pulang ke tambang” jawab Noir

Setelah beberapa menit mereka bersantai, mereka pun akhirnya pulang menuju ke tambang. Beberapa langkah mereka berjalan dari tempat sebelumnya tiba-tiba Elly melihat ada orang dibalik pohon besar yang ada di dalam hutan yang berada di samping kanan mereka.

“Guys, Di sana ada orang dibalik pohon” tunjuk Elly.

“Ehh, iya. Ada orang, kita samperin yuk” Ajak Renza sudah percaya diri.

“Kamu tidak takut apa? Kalo itu hantu bagaimana?” cemas Veli.

“kita tinggal lari aja” Ucap Noir mendukung Renza.

Velia dan Elly hanya mengikuti Renza dan Noir dari belakang, Renza pun bertanya dengan orang tersebut.

“Halo, Pak. Kenapa bapak ada di hutan yang gelap ini.” ucap Renza tanpa ragu.

“Kalian ngapain di sini. Lebih baik kalian pergi dari sini sebelum salah satu dari kalian yang mati.” Jawab orang itu kemudian dia menghilang tanpa jejak dihadapan mereka secara langsung. Mereka menyadari bahwa itu adalah hantu, mereka bergegas berlari dari sana. karena mereka takut dengan ucapan hantu tersebut. Tiba-tiba Velia terpeleset ke jurang dan jatuh di danau. Velia berusaha untuk naik tapi sayangnya dia tidak bisa. Noir bergegas ke tambang untuk meminta bantuan. Sesampainya di sana, Noir menjelaskan kejadian Velia jatuh kepada Pak Tono. Tanpa pikir panjang Pak Tono dan pekerja lain segera menuju ke lokasi, Pak tono sempat menelepon polisi untuk meminta tolong. Semua sudah sampai di tempat kejadian. Mereka mengangkat Velia menuju di perahu darurat polisi. Dan membawa ke tepian untuk melakukan pertolongan pertama. Tapi sayangnya nyawa Velia tidak bisa diselamatkan. Ayah Velia datang ke tempat kejadian karena mendengar kabar dari Pak Tono, dan melihat anaknya tergeletak di tanah. Ayahnya terpukul melihat anaknya yang sudah tiada. “Permisi, di mana keberadaan Pak Alaric?” tanya salah satu petugas.

“Kami sudah memeriksa bahwa area ini, telah melakukan pertambangan ilegal, dan tidak resmi dari pemerintah. Pak Alaric dan pekerja yang lain yang ikut terlibat akan dihukum penjara. Terutama dengan Pak Alaric akan di denda seratus milyar rupiah dan 5 tahun penjara terduga melakukan pertambangan ilegal. Tempat ini akan ditutup” Ucap Petugas. Alaric hanya bisa pasrah, dan dia merasa bersalah karena anaknya meninggal atas kelakuan ia sendiri.

 

TAMAT

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Harga yang Harus Dibayar

Sebuah karya dari Sahratul Syita, siswa kelas 8B SMPN 1 Sungaiselan   “Pagi, Pak Alaric.” ucap Budi “Pagi juga, masih membuat jalur limbah y...