Note :
Puisi ini lahir dengan selamat dan Alhamdulillah jadi puisi pilihan versi Rumah Sintas. Selamat membaca.
Pagi itu, tak mengepul asap di dapur kami
Penanak nasi
pun terasa enggan bertemu dengan sudip kayu
Jangan tanya
berasnya mana
Apa yang
harus disantap pun kami tak tahu
Pagi itu, ku
dapati bapak tidak ada di rumah
Berjuang untuk
kita, kata ibu
Ku lihat
jala bapak pun memang tak ada
Mungkin
benar, bapak memang sedang berjuang
Apakah bapak
masih berjuang, Bu?
Kita makan
apa hari ini, Bu?
Apakah ibu
tidak lapar?
Kami lapar,
Bu
Puluhan kali
kalimat itu keluar dari mulutku
Tetap saja,
hanya diam yang ibu sajikan
Senja datang,
kemudian gelap
Ku dapati
bapak belum juga pulang
Satu kali ku
datangi dermaga tua itu
Hanya sepi
yang ku dapati
Kedua kali
ku sambangi
Tetap saja
pertanyaanku tak terjawab
Ku titipkan
pesan pada ombak yang datang
Bisa jadi ku
temukan jawaban untuk ketiga kalinya
Tapi tetap
saja, aku pulang tanpa jawaban
Pak, selamat
menunaikan ibadah makan
Aku tahu bapak juga lapar
Sama halnya
dengan kami
Kami tunggu
kepulanganmu, Pak
Agar kita
bisa kembali
Kembali menunaikan
ibadah makan berjamaah

Tidak ada komentar:
Posting Komentar