Sabtu, 19 Oktober 2013

Percakapan Singkat

            Genting panas seakan akan menusuk kulit nan putih ini, menikmati keindahan kampus biru di tengah universitas utama di Indralaya. Aku  juga kurang mengetahui apakah Indralaya itu disebut kota ataukah desa. Entah mengapa tanpa disadari aku sangat bersemangat di hari itu hanya untuk datang ke suatu acara yang memang dari prodi ku yang menyelenggarakan. Biasanya aku sedikit bermalas malasan jika ada kegiatan diluar materi pelajaran. Itupun harus di bujuk dengan paksa agar aku datang. Namun hari itu sangatlah berbeda. Disisi lain aku memang telah berniat untuk tidak datang kesana jika bukan untuk urusan yang lebih penting, Seperti menyerahkan berkas UKT (Uang Kuliah Tunggal). Suatu kejadian yang memang membuatku sedikit menghindarkan diri dari penglihatan seseorang. Aku berusaha untuk merelakan semua yang telah terjadi kepadaku, walaupun itu kelihatannya sulit untuk dimengerti.
            Pertemuan setelah kejadian itu membuatku selalu berusaha untuk menghindar dan pura-pura tidak tahu. Hari itu sangatlah berbeda dari hari yang sebelumnya ketika aku bertemu dengannya. Menghadirkan suatu yang sangat asing, aku seperti orang yang baru saja lepas dari sakit jiwa. tidak tahu akan berbuat apa, seperti orang bodoh yang tidak tahu kemana akan melangkah. Melihat dia memulai pertemuan pertama yang aneh bagiku, seakan akan mau menunjukkan “ini loh gebetan yang selama ini aku nantikan”. Aku bukannya merasa sedih ya, hanya saja sedikit merasa bersalah. Mengapa aku bisa hadir di tengah-tengah kebahagiaan mereka. Mengapa aku bisa memiliki perasaan yang semestinya tak pantas aku membuat perasaan itu menjadi sebuah kegalauan.
            Ketika senja berganti menjadi awan kelabu, menunjukkan bahwa waktu pulang dan mengantri bus angkutan khusus mahasiswa. Disaat aku tidak berharap semua nya akan terjadi, ternyata semua berbalik arah. Pertemuan itu benar benar terjadi bahkan secara langsung tanpa ada batas yang memisahkan. Percakapan yang berawal dari mengucapkan “Selamat Ulang Tahun” untukku dan sedikit ada kesan menawarkan akan pulang bersama satu bus. Akan tetapi ada satu hal yang harus aku ingat dan aku sadari, wanita yang bersama nya bukanlah teman biasa, bahkan bisa disebut gebetan atau calon pacar. Dilema melanda diriku, merasuk ke dalam kalbu. Antara pulang bersama atau tidak, antara satu bus atau tidak. Ah bingung, semua menjadi serba salah. Akhirnya ku putuskan untuk pergi dan berjalan sejauh 5 meter mungkin dari langkah kakinya dan ya terutama perempuan itu.
            Disaat sedang asyik mengobrol dengan teman sepermainan ku, aku lihat dengan matakepala ku sendiri mereka bertengkar kecil dan menyebabkan perempuan yang bersama nya tadi pergi. Hal yang membuat aku sesali, ternyata ia dengan sekuat tenaga nya mengejar perempuan itu. setelah nalar ku berbicara, mungkin ini yang disebut perjuangan seorang laki-laki terhadap perempuan yang dicintai nya. Aku hanya bisa terdiam membisu setelah melihat kejadian itu, menggerutu didalam hati “andai aku yang kau kejar dan kau bujuk untuk tetap pergi bersamamu”  ah daya khayal ku melambung tinggi menembus awan ke tujuh rasanya. Setelah aku relakan dan aku putuskan untuk berbeda bus karena itu pikirku lebih baik untuk menghindar darinya.
            Nasib tak pernah bisa di tolak atau dihindari, mungkin semua skenario Tuhan yang diberikannya untukku. Aku satu bus dengan nya selama kurang lebih 1 jam. Duduk di depan bangku nya, mendengarkan celotehannya alias bisa dikatakan nguping pembicaraan orang yang memang mungkin tidak pantas orang lain untuk tahu. Ya itulah nasib, rumah satu arah dan mungkin kurang lebih bisa dikatakan berdekatan. Pulang kerumah dengan naik TM atau Trans Musi itu adalah hal yang biasa. Tapi, hari itu sangatlah berbeda bukan karena busway nya yang baru atau apapun tetapi seseorang yang dulu pernah aku kagumi pulang bersamaku. Suatu hal yang mungkin takkan pernah aku sadari akan terjadi kepadaku. Perasaan yang dulu pernah ku buang serasa kembali lagi seperti dulu. Namun aku hanya banyak-banyak berdiam diri, aku akan berbicara jika dia yang memulai pembicaraan. Sungguh hal yang memang tak ingin aku lakukan terhadapnya, tetapi aku masih trauma dengan semua yang telah terjadi kepadaku. Semua yang membuat hati ini yang sedari dulu berkobar untuknya kini perlahan redup dan kemungkinan akan cepat mati.
            Tahap demi tahap aku lalui dengan hanya berdiam diri dan sedikit mengobrol dengan temanku. Semua itu aku lakukan demi menghindar dari nya, dan belajar melupakan semua harapan-harapan yang aku bangun dari dulu. Sampai pada akhirnya aku duduk temenung bersampingan dengannya, membuat isi hati ini ingin meledak mengeluarkan semua unek-unek yang sedari dulu aku usahakan untuk keluar namun tak mau jua untuk keluar. Percakapan singkat yang kurasa itu suatu pertanda engkau masih menyimpan harapan-harapan itu. membuatku yakin bahwa harapan-harapan itu akan terwujud dengan sendiri nya tanpa disadari dan tanpa dikehendaki. Tapi entahlah...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Harga yang Harus Dibayar

Sebuah karya dari Sahratul Syita, siswa kelas 8B SMPN 1 Sungaiselan   “Pagi, Pak Alaric.” ucap Budi “Pagi juga, masih membuat jalur limbah y...