Genting panas seakan akan menusuk
kulit nan putih ini, menikmati keindahan kampus biru di tengah universitas
utama di Indralaya. Aku juga kurang
mengetahui apakah Indralaya itu disebut kota ataukah desa. Entah mengapa tanpa
disadari aku sangat bersemangat di hari itu hanya untuk datang ke suatu acara
yang memang dari prodi ku yang menyelenggarakan. Biasanya aku sedikit bermalas
malasan jika ada kegiatan diluar materi pelajaran. Itupun harus di bujuk dengan
paksa agar aku datang. Namun hari itu sangatlah berbeda. Disisi lain aku memang
telah berniat untuk tidak datang kesana jika bukan untuk urusan yang lebih
penting, Seperti menyerahkan berkas UKT (Uang Kuliah Tunggal). Suatu kejadian
yang memang membuatku sedikit menghindarkan diri dari penglihatan seseorang.
Aku berusaha untuk merelakan semua yang telah terjadi kepadaku, walaupun itu
kelihatannya sulit untuk dimengerti.
Pertemuan setelah kejadian itu
membuatku selalu berusaha untuk menghindar dan pura-pura tidak tahu. Hari itu
sangatlah berbeda dari hari yang sebelumnya ketika aku bertemu dengannya. Menghadirkan
suatu yang sangat asing, aku seperti orang yang baru saja lepas dari sakit
jiwa. tidak tahu akan berbuat apa, seperti orang bodoh yang tidak tahu kemana
akan melangkah. Melihat dia memulai pertemuan pertama yang aneh bagiku, seakan
akan mau menunjukkan “ini loh gebetan yang selama ini aku nantikan”. Aku
bukannya merasa sedih ya, hanya saja sedikit merasa bersalah. Mengapa aku bisa
hadir di tengah-tengah kebahagiaan mereka. Mengapa aku bisa memiliki perasaan
yang semestinya tak pantas aku membuat perasaan itu menjadi sebuah kegalauan.
Ketika senja berganti menjadi awan
kelabu, menunjukkan bahwa waktu pulang dan mengantri bus angkutan khusus
mahasiswa. Disaat aku tidak berharap semua nya akan terjadi, ternyata semua
berbalik arah. Pertemuan itu benar benar terjadi bahkan secara langsung tanpa
ada batas yang memisahkan. Percakapan yang berawal dari mengucapkan “Selamat
Ulang Tahun” untukku dan sedikit ada kesan menawarkan akan pulang bersama satu
bus. Akan tetapi ada satu hal yang harus aku ingat dan aku sadari, wanita yang
bersama nya bukanlah teman biasa, bahkan bisa disebut gebetan atau calon pacar.
Dilema melanda diriku, merasuk ke dalam kalbu. Antara pulang bersama atau
tidak, antara satu bus atau tidak. Ah bingung, semua menjadi serba salah.
Akhirnya ku putuskan untuk pergi dan berjalan sejauh 5 meter mungkin dari
langkah kakinya dan ya terutama perempuan itu.
Disaat sedang asyik mengobrol dengan
teman sepermainan ku, aku lihat dengan matakepala ku sendiri mereka bertengkar
kecil dan menyebabkan perempuan yang bersama nya tadi pergi. Hal yang membuat
aku sesali, ternyata ia dengan sekuat tenaga nya mengejar perempuan itu.
setelah nalar ku berbicara, mungkin ini yang disebut perjuangan seorang
laki-laki terhadap perempuan yang dicintai nya. Aku hanya bisa terdiam membisu
setelah melihat kejadian itu, menggerutu didalam hati “andai aku yang kau kejar
dan kau bujuk untuk tetap pergi bersamamu”
ah daya khayal ku melambung tinggi menembus awan ke tujuh rasanya.
Setelah aku relakan dan aku putuskan untuk berbeda bus karena itu pikirku lebih
baik untuk menghindar darinya.
Nasib tak pernah bisa di tolak atau
dihindari, mungkin semua skenario Tuhan yang diberikannya untukku. Aku satu bus
dengan nya selama kurang lebih 1 jam. Duduk di depan bangku nya, mendengarkan
celotehannya alias bisa dikatakan nguping pembicaraan orang yang memang mungkin
tidak pantas orang lain untuk tahu. Ya itulah nasib, rumah satu arah dan
mungkin kurang lebih bisa dikatakan berdekatan. Pulang kerumah dengan naik TM
atau Trans Musi itu adalah hal yang biasa. Tapi, hari itu sangatlah berbeda
bukan karena busway nya yang baru atau apapun tetapi seseorang yang dulu pernah
aku kagumi pulang bersamaku. Suatu hal yang mungkin takkan pernah aku sadari
akan terjadi kepadaku. Perasaan yang dulu pernah ku buang serasa kembali lagi
seperti dulu. Namun aku hanya banyak-banyak berdiam diri, aku akan berbicara
jika dia yang memulai pembicaraan. Sungguh hal yang memang tak ingin aku lakukan
terhadapnya, tetapi aku masih trauma dengan semua yang telah terjadi kepadaku.
Semua yang membuat hati ini yang sedari dulu berkobar untuknya kini perlahan
redup dan kemungkinan akan cepat mati.
Tahap
demi tahap aku lalui dengan hanya berdiam diri dan sedikit mengobrol dengan
temanku. Semua itu aku lakukan demi menghindar dari nya, dan belajar melupakan
semua harapan-harapan yang aku bangun dari dulu. Sampai pada akhirnya aku duduk
temenung bersampingan dengannya, membuat isi hati ini ingin meledak
mengeluarkan semua unek-unek yang sedari dulu aku usahakan untuk keluar namun
tak mau jua untuk keluar. Percakapan singkat yang kurasa itu suatu pertanda
engkau masih menyimpan harapan-harapan itu. membuatku yakin bahwa
harapan-harapan itu akan terwujud dengan sendiri nya tanpa disadari dan tanpa
dikehendaki. Tapi entahlah...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar