Di suatu sore menjelang malam, aku bergumal dengan para
penumpang sebuah bus antar kota yang sangat banyak dan berdesakan. Setelah
kuperhatikan semua penumpang yang duduk adalah para ibu-ibu dan bapak-bapak
yang sepertinya sudah mulai rentah dan tidak kuat lagi untuk berdiri. ku akui
memang rasa toleransi itu muncul disaat sedang dalam keadaan berdesakkan dan
bus penuh dari penumpang. Disitu juga bisa dilihat mana yang mempunyai perasaan
dan mana yang tidak mempunyai perasaan terhadap orang yang lebih tua. Aku
terkeliap dalam lamunan dan membayangkan jika nanti kedua orang tuaku sudah
menjadi tua dan sudah tidak sanggup untuk menganggung beban pekerjaan yang
berat. Apakah aku bisa merawat mereka ? apakah aku bisa mengurus mereka seperti
mereka mengurusku waktu kecil ? begitulah siklus kehidupan dari bayi tumbuh
menjadi anak dewasa dan menjadi tua dan kembali lagi menjadi seperti anak bayi
yang memerlukan perhatian. Ingin rasanya menitihkan air mata mengenang betapa
nakalnya tingkah laku diriku sewaktu aku kecil. membuat kesal ibuku, sampai
ibuku menitihkan air mata melihat semua ulah yang aku lakukan. Hal-hal yang
berbau kedua orang tua itulah yang bisa membuat hati siapapun yang merasa
mempunyai kedua orang tua akan luluh dan tak terasa menitihkan air matanya.
Alangkah teganya jika seorang anak yang merasa tidak mempunyai kesalahan apapun
dengan kedua orang tuanya. Mungkin bisa dikatakan bukan lagi manusia, wujudnya
manusia namun hatinya mungkin tak seperti hati manusia. Bagiku ayah dan ibu itu
segala di dalam hidupku. Terutama ibu, mungkin jika ibuku sudah tiada aku
takkan menjadi seperti ini sampai sekarang aku bisa mencicipi bangku kuliah.
Perjuangan ibuku sangatlah besar,
bekerja keras membanting tulang demi membiayai uang sekolahku.
Dia bagai Malaikat yang setia berada disisiku. Kusebut
Dia “IBU”…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar