Minggu, 17 November 2013

Malaikat yang Ku Sebut Ibu



Di suatu sore menjelang malam, aku bergumal dengan para penumpang sebuah bus antar kota yang sangat banyak dan berdesakan. Setelah kuperhatikan semua penumpang yang duduk adalah para ibu-ibu dan bapak-bapak yang sepertinya sudah mulai rentah dan tidak kuat lagi untuk berdiri. ku akui memang rasa toleransi itu muncul disaat sedang dalam keadaan berdesakkan dan bus penuh dari penumpang. Disitu juga bisa dilihat mana yang mempunyai perasaan dan mana yang tidak mempunyai perasaan terhadap orang yang lebih tua. Aku terkeliap dalam lamunan dan membayangkan jika nanti kedua orang tuaku sudah menjadi tua dan sudah tidak sanggup untuk menganggung beban pekerjaan yang berat. Apakah aku bisa merawat mereka ? apakah aku bisa mengurus mereka seperti mereka mengurusku waktu kecil ? begitulah siklus kehidupan dari bayi tumbuh menjadi anak dewasa dan menjadi tua dan kembali lagi menjadi seperti anak bayi yang memerlukan perhatian. Ingin rasanya menitihkan air mata mengenang betapa nakalnya tingkah laku diriku sewaktu aku kecil. membuat kesal ibuku, sampai ibuku menitihkan air mata melihat semua ulah yang aku lakukan. Hal-hal yang berbau kedua orang tua itulah yang bisa membuat hati siapapun yang merasa mempunyai kedua orang tua akan luluh dan tak terasa menitihkan air matanya. Alangkah teganya jika seorang anak yang merasa tidak mempunyai kesalahan apapun dengan kedua orang tuanya. Mungkin bisa dikatakan bukan lagi manusia, wujudnya manusia namun hatinya mungkin tak seperti hati manusia. Bagiku ayah dan ibu itu segala di dalam hidupku. Terutama ibu, mungkin jika ibuku sudah tiada aku takkan menjadi seperti ini sampai sekarang aku bisa mencicipi bangku kuliah. Perjuangan ibuku sangatlah besar,  bekerja keras membanting tulang demi membiayai uang sekolahku.

Dia bagai Malaikat yang setia berada disisiku. Kusebut Dia “IBU”…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Harga yang Harus Dibayar

Sebuah karya dari Sahratul Syita, siswa kelas 8B SMPN 1 Sungaiselan   “Pagi, Pak Alaric.” ucap Budi “Pagi juga, masih membuat jalur limbah y...