Sabtu, 22 Februari 2020

Akhir Dunia [Remastered]


Akhir Dunia [Remastered]
Karya : M. Faathin Abdurrahman (7B.1)

Aku tidak ingat kapan terakhir kali aku berbicara dengan seseorang. Mungkin karena sudah lama aku tidak melihatnya. Tiap kali Aku berkelana untuk mencari makanan dan minuman, yang kutemukan hanyalah Mayat hidup yang mencari mangsa. Mereka ada di mana-mana, di Kota, Taman, Mall, bahkan di Hutan. Kira-kira sejak 2 tahun yang lalu, Wabah itu menyebar, Seluruh Penduduk di Kota semuanya berubah. Aku masih menyimpan Dendam kepada Mereka ! .  Aku merasa bersalah karena, Aku hanya bisa mendengarkan teriakan-teriakan penduduk tanpa bisa membantu. Aku hanya di rumah dengan beberapa suplai makanan dan minuman, menunggu bantuan dengan Radio. Pernah ada, Helikopter yang ingin mengangkut beberapa orang di kota. Tetapi, Helikopter tersebut hancur karena ulah makhluk-makhluk yang kelaparan itu. Itulah mengapa tidak ada lagi helikopter yang datang ke kota ini. Namaku Rio. Aku hanya ingin bertemu dengan seseorang saja. Aku sangat kesepian.
Pagi hari ini, Aku akan menjelajah ke Kota Zona C. Karena, suplai makanan mulai menipis, dan itu juga merupakan tempat yang belum kujelajahi. Zona A dan Zona B pernah kujelajahi. Tetapi, sangat susah mengontrol situasi di sana karena Aku tidak bisa mengimbangi jumlah mereka hanya dengan menggunakan kapak.
Dari tepi, Aku bisa melihat mereka berjalan tak tahu arah. Hal yang dapat memancing mereka hanya 1, yaitu Suara. Jadi, Aku harus menghindari hal itu. Aku melangkah perlahan agar tidak bisa menimbulkan suara di tempat itu. Di sisi kanan dan kiri aku bisa melihat Rumah Sakit yang gelap hingga bengkel yang terbakar. Tiba-Tiba!, Aku mendengar teriakan seseorang. Spontan, Aku menuju ke sumber suara dan Aku melihat Seorang Perempuan yang dikelilingi oleh Makhluk-Makhluk yang ganas itu. Aku langsung memegang kapak kemudian menebas merka satu-persatu sambil berkata’’Ayo Bangun!’’. Setelah Perempuan itu bangun, Aku menarik Tangannya kemudian meninggalkan Tempat itu..Setelah keluar dari Zona C. Aku berhenti berlari dan bertanya’’Kenapa kau tidak lari?!’’, ‘’Maafkan Aku’’, ‘’Aku tadi ketakutan’’katanya.’’Tidak apa, yang penting kau selamat’’, ‘’Terima kasih sudah menyelamatkan ku’’, ‘’Jika tidak, mungkin Aku sudah menjadi bagian dari mereka’’. Hari mulai Gelap. ‘’Ayo beristirahat unruk semalam’’ujarnya. “Namaku Emillia”, “Aku membawa banyak makanan dari toko tadi, Apa kau mau?”.  “Terima Kasih, Namaku Rio”, “Senang bertemu dengan mu”, sambil mengambil beberapa makanan. Dalam hati, Aku sangat senang karena Aku tidak sendirian lagi di dunia ini. Mungkin di luar sana, masih ada harapan untuk bertemu manusia lainnya.
Hari ini, Emillia mengajakku untuk pergi ke Bunker di kota sebelah. Di sana, Terdapat beberapa temannya, yang memilliki beberapa senjata dan suplai makanan. “Baiklah”, kataku. Perjalanan dimulai dari  Kota Zona A. Setelah membawa perbekalan yang cukup, Kami pun memulai perjalanan. Di hutan, tidak terlihat banyak, Tetapi Aku dan Dia harus berjalan perlahan karena mungkin saja, Penglihatan dapat mengelabui. Setelah berjalan selama setengah hari, Tibalah kami di kota tersebut. Kota tersebut terlihat bersih dari makhluk-makhluk itu. Kami mengetahui alasannya ketika melihat Bunker. Ya, Bunker itu di serbu oleh Puluhan mungkin Ratusan yang ingin menghancurkan Bunker tersebut. Kupikir perjalanan akan lancar, Tetapi hidup kadang penuh rintangan. Kini, Aku harus mencari cara agar dapat memancing mereka dari bunker.
Akhirnya, Aku mengetahui cara mengalihkan para monster itu. Akupun memberitahukannya Ide itu kepada Emillia.Tapi, tentu saja Ia menolaknya.
“Idemu terlalu berbahaya!” , Bagaimana jika kamu mati?”
Aku menjawab “Tidak apa-apa”, “ Apalah arti sebuah nyawa jika bisa menyelamatkan                nyawa lainnya.”
“Mungkin, di lain waktu kita bisa bertemu kembali.”
Akhirnya Ia pun luluh dan kemudian bersembunyi di sebuah pohon dekat bunker Dengan nekat Aku pun berteriak
“AAAAAAAAAAAAAAAA!!!”
Merekapun melihat ke sumber suara kemudian mengejarku. Aku berlari tanpa melihat ke belakang lagi. Ya, Perasaaanku sangat senang karena, walaupun Aku akan sendiri lagi. Tetapi, Aku berhasil menyelamatkan orang-orang di dalam bunker.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Harga yang Harus Dibayar

Sebuah karya dari Sahratul Syita, siswa kelas 8B SMPN 1 Sungaiselan   “Pagi, Pak Alaric.” ucap Budi “Pagi juga, masih membuat jalur limbah y...