Sabtu, 22 Februari 2020

Petualangan Menarik


Petualangan Menarik
Karya : Ahmad Rizki Daffaa (7B.1)

            Minggu pagi, Prudens dan teman-temannya pergi membaca di perpustakaan kota. Mereka hanya berlima saja, antara lain Prudens, Emillia, Cassius, Eclysa, dan O’rion. Masing-masing dari mereka membaca satu buku. Karena buku yang dibaca lumayan tebal, mereka meminjam buku yang mereka baca. Namun ketika Prudens ingin meminjam buku “Petualangan Luar Angkasa”, sang pustakawan melarang ia untuk meminjam buku tersebut. “Gak lama sebelum lu minjem nih buku, ade anak minjem nih buku juga. Pas waktu ngebalikin gue cari tuh anak yang minjem, eh bukunya ada tapi yang minjem kagak ade. Rumornya sih nih buku ada sihir gitu, semacem kutukanlah. Jadi, nih buku kagak boleh keluar dari perpustakaan ini!”. Sang pustakawan pun menyimpan buku itu di tasnya. Prudens pun tampak murung, wajar saja ini kali pertama ia tidak boleh meminjam buku. Tapi yang namanya keinginan klo udah kuat pasti apapun dilakuin dah. Prudens pun tetap saja mengambil buku itu diam-diam ketika sang pustakawan sedang lengah. Cassius yang melihatnya pun bergurau, “Eh, lu gak takut apa tiba-tiba ilang gitu, Dens? Ntar si Eclysa sedih tuh wkwk.”. Mendengar itupun yang lainnya pun ikut tertawa, sedangkan Eclysa dan Prudens terlihat kesal. Mereka terkenal karena sifat mereka yang khas. Prudens dengan keras kepalanya, Cassius dengan lawakannya, O’rion dengan kebijaksanaannya, Emillia dengan hatinya yang baik, dan Eclysa yang pemalu. “Eh bacot lu cas, bilang ae kalo takut. Gue gk pernah ngajak penakut kok. “ tantang Prudens. Datang O’rion menasehati mereka berdua, “Udah udah, lu berdua kek balita aja berantem mulu. Yang satu egois, yang satunya lagi hobi bikin emosi.” . Akhirnya pertengkaran mereka bisa mereda sedikit.

            Terlanjur kesal, Prudens pun membuka buku tersebut ketika mereka semua sedang berjauhan. Tiba-tiba kabut tebal mengelilingi mereka, Mereka saling berdekatan agar tidak ada yang kehilangan satu sama lain. Perlahan, kabut pun mulai menghilang. Dan mereka ada di kapal luar angkasa. “Dimana nih kita, gue belum mau mati dosa gue masih banyak. Bayangin AJA dosa gue yang pemalu aja banyak, apalagi dosa si Cassius.” ujar Eclysa. Tak lama kemudian, “Te.. tes tes….. Halo, ini gue anak yang pernah baca buku Petualangan Luar Angkasa. Nama gue Mowli, iya gue tau kok agak aneh. Tapi tolong selametin gue, gue sekarang ada di Planet Welfare. Planet ini gak ada perlindungan sama sekali! Terakhir kali perang di sini sekitar 1.000 abad yang lalu. Berdasarkan artefak kuno yang ada di sini, gak lama lagi akan ada penakluk dating kesini. Mereka hanya bisa dikalahkan oleh 5 orang yang memiliki pertemanan yang kuat. Gue harap itu kalian, oh iya nih lokasi planetnya!” pesan itu pun berakhir dengan lokasi dari planet Welfare. Karena lokasinya yang sulit dicapai wajar saja jika keadaan di sana cukup damai. “Ok, ini lokasinya. Waktu tempuh kita paling cepat cuman 8 jam, paling lama 12 jam. Itu pun kalau persediaan kita cukup. Ada pesan tambahan sebelumnya, waktu kita cuman 24 jam!” ucap O’rion. O’rion pun menjelaskan bagian rincinya lebih lanjut, “Terakhir, gunakan persediaan yang kita punya secukupnya!” . Mereka pun bersiap-siap untuk memulai perjalanan mereka.

            Mereka melewat berbagai planet dengan keunikannya masing-masing. Ada planet tumbuhan, planet elemental, planet pengetahuan, dan banyak lainnya. Yang paling unik ialah planet kehidupan, di sana semua makhluk hidup abadi. Namun, hanya untuk makhluk asli planet tersebut. Persediaan mereka pun menipis, padahal mereka sudah berhemat menggunakannya. “Emi, lu ngasih persediaan kita ke orang lain ya? Waktu tempuhnya bisa lebih lama nih, bukan apa cuman ini nyangkut hidup kita!” kata Prudens. Emillia pun meminta maaf, “ Maaf ya, kalo gk ngebantu orang lain itu rasanya berat banget. Gue bakal usahain untuk mengontrol kebaikan gue.” . Mereka pun segera melanjutkan perjalanan lagi, dengan Emillia yang berusaha menepati janjinya. Berbagai mereka hadapi, bertemu perampok angkasa, teroris angkasa, hingga sampai ke Planet Welfare. Mereka tak berlam-lama disana, mereka hanya menjemput Mowli dan mengalahkan sang penakluk untuk pualng. 1 jam pun tersisa, mereka bertemu dengan sang penakluk. “Ini sang penakluk angkasa? Lebih mirip babu angkasa kali, udah pendek culun lagi.” dengan angkuhnya Prudens memprovokasi mereka. “Jadi kalian sang penyelamat yang dikisahkan artefak kuno itu? Aku tak akan menganggap remeh kalian. Mari bertarung dan buktikan siapa yang lebih hebat.” ujar Viole, sang penakluk angkasa.

            Pertarungan tersebut berlangsung cukup lama, pertarungan dimenangkan oleh Prudens dan teman-teman. Tepat saat waktu yang diberikan habis. Mereka pun saling berdekatan agar tidak kehilangan satu sama lain. Dan wuuushhhhhhhh, tiba-tiba mereka ada di dalam perpustakaan kota. “Hadeh, nih anak keras banget dah. Dibilang jangan sampe bukunye keluar dari nih tempat. Untung langsung gw bawa kesini sebelum 10 hari, gw baru inget siapa aja yang ade di dalem tuh buku 1 hari lebih bakal kekunci di sono.”. Mereka pun menyadari kesalahan mereka dan meminta maaf kepada sang pustakawan, “Maaf pak, kami cuman pengen nyoba sesuatu yang baru gitu.” . Kemudian, buku itu dibakar dan abunya dilarutkan ke dalam air. Sampai sekarang, sebab dan asal muasal buku tersebut belum terungkap. Mereka yang mengalami kejadian itu pun seolah-olah tidak mengalami apa-apa.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Harga yang Harus Dibayar

Sebuah karya dari Sahratul Syita, siswa kelas 8B SMPN 1 Sungaiselan   “Pagi, Pak Alaric.” ucap Budi “Pagi juga, masih membuat jalur limbah y...