Sabtu, 28 Maret 2020

Budaya membaca di Indonesia


Budaya membaca di Indonesia
Karya: Fihry dwiranti Putri (8B.2)

Budaya membaca di Indonesia harus dikenalkan kepada anak-anak sejak kecil. Hal itu dilakukan untuk mencegah terjadinya buta huruf atau buta aksara. Tidak sedikit orang yang mengalami buta huruf atau ketidak mampuan membaca di Indonesia.
Budaya membaca harus ditingkatkan lagi di Indonesia. Karena berkembangnya teknologi, Masyarakat di Indonesia harus memanfaatkan media teknologi untuk meningkatkan pengetahuan. Karena, minat baca di Indonesia masih rendah. Terutama di beberapa sekolah terpencil. Menurut Badan Pusat Statistik Republik Indonesia, pada tahun 2011, penduduk Indonesia yang berumur 10 tahun keatas yang mengalami buta huruf atau buta aksara sekitar 17,86% dan Jumlah tertinggi di Papua sekitar 40,59%. Bahkan, menurut peringkat literasi negara yang dirilis oleh CCSU pada Maret 2016, Indonesia berada pada urutan 60 dari 61 negara yang di survei.
Banyaknya jenis game atau hiburan permainan yang memakai teknologi, serta tayangan televisi mengalihkan perhatian anak dan orang dewasa dari buku menyebabkan kurangnya minat membaca anak-anak. Disamping itu, berkurangnya minat membaca anak-anak juga disebabkan oleh buku-buku perpustakaan yang kurang bervariasi. Sementara itu, adanya semboyan “Baca buku, buka dunia” dan “Buku adalah jendela ilmu” Berarti dengan membaca buku, kita akan memperoleh pengetahuan dan memperbaiki kehidupan.
Oleh karena itu, banyak sekolah-sekolah yang sudah melaksanakan kegiatan Literasi. Biasanya literasi dilakukan pada awal jam masuk. 15 atau 10 menit siswa diberi waktu untuk membaca buku. Entah itu berupa komik, cerita rakyat, buku novel, ataupun buku pengetahuan yang dapat menambah wawasan dan pngetahuan anak-anak. Terkadang, ada perpustakaan keliling yang membawa berbagai macam buku dan meminjamkannya kepada anak-anak agar mereka membacanya. Hal itu bertujuan untuk mencegah terjadinya buta huruf atau buta aksara di Indonesia.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Harga yang Harus Dibayar

Sebuah karya dari Sahratul Syita, siswa kelas 8B SMPN 1 Sungaiselan   “Pagi, Pak Alaric.” ucap Budi “Pagi juga, masih membuat jalur limbah y...