Budaya
membaca di Indonesia
Karya: Fihry dwiranti Putri (8B.2)
Budaya membaca di Indonesia harus
dikenalkan kepada anak-anak sejak kecil. Hal itu dilakukan untuk mencegah
terjadinya buta huruf atau buta aksara. Tidak sedikit orang yang mengalami buta
huruf atau ketidak mampuan membaca di Indonesia.
Budaya membaca harus ditingkatkan
lagi di Indonesia. Karena berkembangnya teknologi, Masyarakat di Indonesia
harus memanfaatkan media teknologi untuk meningkatkan pengetahuan. Karena,
minat baca di Indonesia masih rendah. Terutama di beberapa sekolah terpencil.
Menurut Badan Pusat Statistik Republik Indonesia, pada tahun 2011, penduduk
Indonesia yang berumur 10 tahun keatas yang mengalami buta huruf atau buta
aksara sekitar 17,86% dan Jumlah tertinggi di Papua sekitar 40,59%. Bahkan,
menurut peringkat literasi negara yang dirilis oleh CCSU pada Maret 2016,
Indonesia berada pada urutan 60 dari 61 negara yang di survei.
Banyaknya jenis game atau hiburan
permainan yang memakai teknologi, serta tayangan televisi mengalihkan perhatian
anak dan orang dewasa dari buku menyebabkan kurangnya minat membaca anak-anak.
Disamping itu, berkurangnya minat membaca anak-anak juga disebabkan oleh
buku-buku perpustakaan yang kurang bervariasi. Sementara itu, adanya semboyan
“Baca buku, buka dunia” dan “Buku adalah jendela ilmu” Berarti dengan membaca
buku, kita akan memperoleh pengetahuan dan memperbaiki kehidupan.
Oleh karena itu, banyak
sekolah-sekolah yang sudah melaksanakan kegiatan Literasi. Biasanya literasi
dilakukan pada awal jam masuk. 15 atau 10 menit siswa diberi waktu untuk
membaca buku. Entah itu berupa komik, cerita rakyat, buku novel, ataupun buku
pengetahuan yang dapat menambah wawasan dan pngetahuan anak-anak. Terkadang,
ada perpustakaan keliling yang membawa berbagai macam buku dan meminjamkannya
kepada anak-anak agar mereka membacanya. Hal itu bertujuan untuk mencegah
terjadinya buta huruf atau buta aksara di Indonesia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar