Indonesia
Darurat Minat Baca
Karya : Handika Syachreza Pasha (8.1)
Slogan
"Buku adalah Jendela Dunia" seolah-olah dianggap hanya kata
kiasan saja tanpa arti dan makna. Zaman sekarang, masyarakat Indonesia masih
saja banyak yang malas membaca. Terutama, remaja saat ini hanya membaca buku
saat membutuhkan sumber untuk mengerjakan tugas. Padahal dengan membaca buku,
banyak manfaat yang bisa diperoleh.
Minimnya
minat baca di Indonesia tentu didasari oleh beberapa faktor di dalamnya,
sedangkan faktor-faktor yang menyebabkan negeri ini minat baca. Bahkan
berdasarkan penelitian Bangsa-Bangsa Paling Literate Dunia yang dilakukan Central
Connecticut State University, New Britain, Amerika Serikat, pada Maret 2016
lalu, Indonesia bahkan menyetujui peringkat ke-60 dari 61 negara dalam minat
membaca. Minat baca di Indonesia hanya sebesar 0,001% yang berarti dari 1.000
penduduk Indonesia hanya 1orang yang memiliki kegemaran membaca. Jelas hal ini
ikut serta mencerminkan Indonesia yang tertinggal dari Singapura dan Malaysia.
Lantas
apa saja faktor-faktor tersebut? Beberapa sumbangan adalah gadget, game
online, peran model orang tua yang diikuti anak. Orang tua belum dapat
memberikan contoh menanamkan minat membaca sejak dini kepada anak. Kemudian
sarana pendidikan yang tidak mendukung seperti perpustakaan yang koleksi
bukunya kurang update, jumlah anak yang putus sekolah, harga buku yang
dikeluarkan masih mahal, buku pendistribusian buku yang belum diperuntukkan di
daerah pelosok, dan minimalnya buku produksi yang terlihat dari survei Nomor
Buku Standar Internasional (ISBN) tahun 2016, dimana Indonesia hanya
memproduksi 64 ribu buku per tahun. Jika dibandingkan dengan negara Tiongkok
yang memproduksi buku hingga 440 buku per tahun tentu jumlah ini berbanding jauh.
Rendahnya
minat membaca ini tidak sebanding dengan jumlah pengguna internet di Indonesia
yang mencapai angka 24,23%. Hal ini telah dikemukakan oleh Asosiasi Pengguna
Jasa Internet Indonesia (APJII). Sementara dengan menggunakan media internet,
kita dapat memperoleh sumber bacaan yang lebih banyak dan beragam. Sebagian
besar, pengguna internet hanya membaca judul dari setiap artikel yang ada di
media sosial yang dapat dibuktikan dengan kebutuhan bandwidth yang
digunakan lebih berorientasi pada informasi grafis.
Berdasarkan
paparan di atas, bahwa penduduk Indonesia harus membiasakan budaya minat baca.
Penduduk Indonesia juga seharusnya membiasakan membaca sejak dini. Kita juga
harus meniru perilaku negara lain, yaitu selalu membawa buku kemana-mana
seperti di bandara, kafe, dan tempat lainnya. Usaha tersebut tentunya akan
membuat Indonesia bisa menyaingi negara-negara teratas seperti Tiongkok dan
Amerika Serikat.
Sumber
:
1.
https://www.google.com/amp/s/www.kompasiana.com/amp/vegamaarijilula/5aae87d9ab12ae123d2de832/indonesia-darurat-membaca
2.
http://lpmmomentum.com/2018/01/indonesia-darurat-membaca/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar