Sabtu, 28 Maret 2020

Indonesia Darurat Minat Baca



Indonesia Darurat Minat Baca
Karya : Handika Syachreza Pasha (8.1)


Slogan "Buku adalah Jendela Dunia" seolah-olah dianggap hanya kata kiasan saja tanpa arti dan makna. Zaman sekarang, masyarakat Indonesia masih saja banyak yang malas membaca. Terutama, remaja saat ini hanya membaca buku saat membutuhkan sumber untuk mengerjakan tugas. Padahal dengan membaca buku, banyak manfaat yang bisa diperoleh.
Minimnya minat baca di Indonesia tentu didasari oleh beberapa faktor di dalamnya, sedangkan faktor-faktor yang menyebabkan negeri ini minat baca. Bahkan berdasarkan penelitian Bangsa-Bangsa Paling Literate Dunia yang dilakukan Central Connecticut State University, New Britain, Amerika Serikat, pada Maret 2016 lalu, Indonesia bahkan menyetujui peringkat ke-60 dari 61 negara dalam minat membaca. Minat baca di Indonesia hanya sebesar 0,001% yang berarti dari 1.000 penduduk Indonesia hanya 1orang yang memiliki kegemaran membaca. Jelas hal ini ikut serta mencerminkan Indonesia yang tertinggal dari Singapura dan Malaysia.
Lantas apa saja faktor-faktor tersebut? Beberapa sumbangan adalah gadget, game online, peran model orang tua yang diikuti anak. Orang tua belum dapat memberikan contoh menanamkan minat membaca sejak dini kepada anak. Kemudian sarana pendidikan yang tidak mendukung seperti perpustakaan yang koleksi bukunya kurang update, jumlah anak yang putus sekolah, harga buku yang dikeluarkan masih mahal, buku pendistribusian buku yang belum diperuntukkan di daerah pelosok, dan minimalnya buku produksi yang terlihat dari survei Nomor Buku Standar Internasional (ISBN) tahun 2016, dimana Indonesia hanya memproduksi 64 ribu buku per tahun. Jika dibandingkan dengan negara Tiongkok yang memproduksi buku hingga 440 buku per tahun tentu jumlah ini berbanding jauh.
Rendahnya minat membaca ini tidak sebanding dengan jumlah pengguna internet di Indonesia yang mencapai angka 24,23%. Hal ini telah dikemukakan oleh Asosiasi Pengguna Jasa Internet Indonesia (APJII). Sementara dengan menggunakan media internet, kita dapat memperoleh sumber bacaan yang lebih banyak dan beragam. Sebagian besar, pengguna internet hanya membaca judul dari setiap artikel yang ada di media sosial yang dapat dibuktikan dengan kebutuhan bandwidth yang digunakan lebih berorientasi pada informasi grafis.
Berdasarkan paparan di atas, bahwa penduduk Indonesia harus membiasakan budaya minat baca. Penduduk Indonesia juga seharusnya membiasakan membaca sejak dini. Kita juga harus meniru perilaku negara lain, yaitu selalu membawa buku kemana-mana seperti di bandara, kafe, dan tempat lainnya. Usaha tersebut tentunya akan membuat Indonesia bisa menyaingi negara-negara teratas seperti Tiongkok dan Amerika Serikat.
 

Sumber :
2.      http://lpmmomentum.com/2018/01/indonesia-darurat-membaca/


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Harga yang Harus Dibayar

Sebuah karya dari Sahratul Syita, siswa kelas 8B SMPN 1 Sungaiselan   “Pagi, Pak Alaric.” ucap Budi “Pagi juga, masih membuat jalur limbah y...